Skip to main content

Featured Post

MEMBANGUN KEDAMAIAN DARI KELUARGA: Menghentikan Konflik Antar Suku dan Membangun Kedamaian dan Persatuan Sebagai Jalan Kedaulatan.

Ilustrasi Gambar : AI image generated (20/5/26) Melihat berbagai rentang konflik antar suku di Lembah Palim yang intens dan masif. Tentu mengantarkan kita pada berbagai anggapan dari berbagai perspektif. Ada yang melihat konflik antar suku sebagai kegagalan penginjilan, ada yang melihat ini sebagai kegagalan politik (kepemimpinan) hingga ada yang melihat ini sebagai kegagalan penegakan hukum. Tentu setiap perspektif dan sudut pandang itu tidak ada yang salah. Tetapi memberikan kita kekayaan dalam melihat persoalan dari berbagai perspektif guna membenahi konflik antar suku, sebagai manusia sosial (homo socius) . Kita mendambakan kedamaian, kenyamanan dan kebersamaan. Sebagaimana pasca konflik perang antar suku di Wouma, pada 15 Mei 2026. Baik Lani ataupun Yali-Hubla sama-sama korban dan berduka. tidak ada yang menang dalam perang dan tidak ada yang lebih jago daripada perang. Sebab perang hanya melahirkan kebencian, dendaman, duka dan luka. Atas berbagai korban material hingga kehilan...

Relevansi Perayaan Paskah Dalam Rangka Perjuangan Hak Asasi Manusia di Tanah Papua.

Ilustrasi Gambar: Jronaldo (3/4/2026).


Paskah (Pesach) adalah perayaan pembebasan. Dalam konteks perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan. Paskah dirayakan untuk memperingati dan mengingat pertolongan YHWH atas bangsa Israel dari tanah Mesir (tanah perbudakan) .

Dengan memakan roti tak beragi serta mengorbankan anak domba. Sebagai wujud mengingat ingatan penderitaan dan pertolongan YHWH atas bangsa Israel yang membawa keselamatan dan pembebasan dari kepemimpinan sang diktator Firaun.

Namun, sesudah penggenapan Kematian Yesus Kristus di Golgota, Kebangkitan dan Kenaikan-Nya. Paskah dirayakan hingga kini, sebagai wujud pembebasan dan perdamaian antara Manusia dan Allah tetapi juga antar manusia dan manusia.

Sehingga perayaan paskah masa kini bukan hanya perayaan pembebasan dan pertolongan YHWH atas Israel tetapi juga perayaan untuk mengenang pembebasan bagi bangsa-bangsa lain yang tersebar di berbagai belahan bumi.

Jika pada zaman perjanjian lama, Musa menjadi mediator antara bangsa Israel dan Mesir. Maka dalam konteks perjanjian baru Yesus Kristus menjadi sang mediator sekaligus reformator (sang pembaharu), pembebasan dan keselamatan antar manusia dan Allah serta atas manusia dan manusia tanpa melihat sekat geografis, politik maupun ras dan identitas.

Melalui cahaya keselamatan-pembebasan-perdamaian Yesus Kristus bagi Manusia dan Allah serta Manusia dan Manusia. Hubungan antara Allah dan Manusia dan sesama manusia dipulihkan, ditahirkan oleh darah Nya.

Dalam konteks perjuangan hak asasi manusia di tanah Papua. Pejuang hak-asasi manusia di tanah Papua adalah aktor yang memediasi bahkan melakukan upaya-upaya untuk meredam konflik politik bersenjata yang terus memakan korban.

Bukan untuk membela ataupun memihak pada satu kubu, ideologi ataupun pemerintahan tetapi memihak demi mewujudkan kedamaian, perdamaian, keamanan dan kenyaman sebagai HAK dasar bagi manusia.

Konflik antara Pemerintah Indonesia dan bangsa Papua yang berlangsung sejak 19 Desember 1961 hingga kini, melalui berbagai operasi militeristik maupun operasi senyap dan operasi pengkondisian dengan label pembangunan.

Harus dihentikan, dengan upaya-upaya kolaboratif dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan di tanah Papua.
Oleh berbagai denominasi gereja di Tanah Papua. Sebab gereja tidak hanya berbicara tentang keselamatan tubuh rohani tanpa melihat keselamatan tubuh badaniah.
Sehingga perayaan paskah memiliki relevansi yang kuat dalam memperjuangkan hak asasi manusia di tanah Papua. Karena gereja tidak boleh dan tidak harus diam ketika umat Tuhan di bantai dengan label apapun yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Sebab Yesus Kristus hadir bukan hanya memulihkan hubungan manusia dan Allah tetapi antar manusia dan manusia dan "Yesus adalah pribadi yang memihak terhadap kaum yang tertindas" (Gem. Dr. Socratez Sofyan Yoman, M.A).
Sehingga gereja di Tanah Papua harus memainkan dan menghidupkan peran profetiknya sebagai esensi dari pada Gereja itu sendiri.




Selamat Merayakan Paskah




Walani, 3 April 2026



Ditulis oleh:



J.W.Ronaldo
Penulis merupakan Alumni Antropologi FISIP UNCEN. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat diakses melalui: http://sabacarita.blogspot.com/

Comments

Popular Posts