Featured Post

MEMBANGUN KEDAMAIAN DARI KELUARGA: Menghentikan Konflik Antar Suku dan Membangun Kedamaian dan Persatuan Sebagai Jalan Kedaulatan.

Ilustrasi Gambar: AI image generated (20/5/26)



Melihat berbagai rentang konflik antar suku di Lembah Palim yang intens dan masif. Tentu mengantarkan kita pada berbagai anggapan dari berbagai perspektif.
Ada yang melihat konflik antar suku sebagai kegagalan penginjilan, ada yang melihat ini sebagai kegagalan politik (kepemimpinan) hingga ada yang melihat ini sebagai kegagalan penegakan hukum.
Tentu setiap perspektif dan sudut pandang itu tidak ada yang salah. Tetapi memberikan kita kekayaan dalam melihat persoalan dari berbagai perspektif guna membenahi konflik antar suku, sebagai manusia sosial (homo socius). Kita mendambakan kedamaian, kenyamanan dan kebersamaan.

Sebagaimana pasca konflik perang antar suku di Wouma, pada 15 Mei 2026. Baik Lani ataupun Yali-Hubla sama-sama korban dan berduka. tidak ada yang menang dalam perang dan tidak ada yang lebih jago daripada perang.

Sebab perang hanya melahirkan kebencian, dendaman, duka dan luka. Atas berbagai korban material hingga kehilangan puluhan puluhan jiwa kerabat, sahabat, bapak, kakak, sepupu yang kita kasihi.

Yang menang dan abadi hanyalah kedamaian, keakraban, persaudaraan dan kebersamaan.

Karena itu, respon dari berbagai keluarga Yali-Hubla, Lani ataupun berbagai suku yang kena imbas dari konflik ini, yang berupaya untuk mewujudkan kedamaian adalah pesan penting bagi kita semua.

Pesan yang harus diwujudkan untuk menghadirkan lembah Palim sebagai rumah bersama yang damai, aman, nyaman yang bertumbuh dalam tali persatuan, keakraban dan persaudaraan sebagai tali perekat untuk mewujudkan kedamaian dan keharmonisasi lintas suku/etnik.

Karena kita: Yali-Hubla, Wio-Silimo, Mukoko, Uweelesi, Ohena, Lani, Nduga Lani, Mek, Kimyal hingga berbagai suku yang mendiami lembah Palim adalah manusia Papua yang tersisa dari berbagai kematian ula timah panas a’la aparat militer.

Apakah kita akan terus berperang dan perang-perang lintas suku itu di main streaming oleh media-media nasional di Indoensia sebagai perang yang biadab, barbar. Karena penduduk orang asli Papua saling menghabiskan.

Padahal disaat yang sama berbagai media utama di Indonesia benar-benar tidak perna mempublikasi berbagai kebiadaban dengan peralatan perang a’la militer Indonesia.

Lihat Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah pasca operasi militer yang merenggut 13 nyawa warga sipil dan berbagai ratusan jiwa mengungsi.
Hingga minggu tepat, tanggal 17 Mei 2026 TNI/Polri melakukan serangan bom menggunakan sejumlah unit drone dan penembakan RPG di Gereja Katolik di Wilayah Mbamogo, Paroki Bilogai. Yang menyebabkan empat (4) orang mengalami luka terkena serpihan ledakan bom.
Tentu peristiwa-peristiwa operasi militeristik diatas adalah sebagian dari berbagai operasi militeristik di Tanah Papua dalam tahun 2026 berjalan ini.

Karena itu, konflik antar suku di Tanah Papua harus dihentikan karena memiliki potensi untuk dimanfaatkan pihak ketiga yang berkepentingan untuk memusnahkan kitorang penduduk orang asli Papua.

Karena sudah menjadi tanggungjawab kita untuk wujudkan kedamaian dan perdamaian seraya tetap menjaga keharmonisan lintas suku di lembah Palim. Sebagaimana seruan-seruan dari berbagai keluarga korban yang menyerukan perdamaian.

Di Tanah Papua, khususnya di lembah Palim. Hanya kitorang yang dapat mewujudkan, membangun, menyatakan dan memulai perdamaian di tanah leluhur kita. Tidak ada orang luar yang datang untuk mendambakan kedamaian di Tanah Papua, terkhusus di Provinsi Papua Pegunungan ataupun kedamaian dan persatuan antar sesama kita di Tanah ini.
Sebab mereka yang datang dari luar hanya datang karena desakan ataupun dorongan ekonomis.
Dari peristiwa, 15 Mei 2026 ini kita belajar bahwa: kedamaian adalah nilai esensial yang patut dikedepankan. Untuk merajut kekeluargaan, kebersamaan, keharmonisan dan kehidupan kita dan warisan bagi anak-cucu di Tanah ini.
Sebab kita tidak mau mewariskan nilai-nilai kebencian, dendaman ataupun duka dan luka bagi anak-cucu kita.
Karena itu, segala biang kerok potensi yang dapat merenggut kedamaian, keakraban antar sesama kita harus diputuskan.

Sebab kitorang harus sadar bahwa: kita yang di gunung, lembah, pesisir, pantai pun tinggal sedikit dari yang tersisa dari berbagai operasi militer di Tanah Papua.

Tentu konflik antar suku akan dimanfaat dan dijadikan bahan pengelabuan berbagai tindakan represif dari berbagai operasi militeristik pemerintah Indonesia di Tanah Papua, sebagaimana operasi militeristik terbaru tahun 2026 yang disebutkan diatas.

Dan kitorang orang Papua akan digiring sebagai manusia kanibal yang memangsa sesama manusia Papua, jika konflik-konflik ini dipelihara dengan merawat luka, duka dan dendaman antar suku.

Atas dasar itu: peristiwa-peristiwa ini telah menjadi pembelajaran bagi kita semua agar peristiwa semacam ini tidak harus terjadi lagi.

Untuk itu mari kita saling bergandeng tangan, saling menguatkan, dan memulai pembenahan dari keluarga ke keluarga, kampung-ke kampung, distrik ke distrik dan gereja ke gereja.

Sebagai tempat kedamaian itu ditanami, dipelihara, dijaga, diinternalisasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan bersosial kita.

Dan bersepakat untuk setiap pelaku kekerasan harus diproses berdasarkan hukum yang berlaku. Agar setiap persoalan kecil tidak merembes dan berdampak luas kepada komunitas/suku dan melahirkan trauma karena perang lintas suku yang tidak kita dambakan.

Demi mewujudkan yogotak hubuluk motok hanorogo. Di lembah Palim, lembah Peradaban berbagai suku di dataran tinggi Papua.



Nakmu Hiyalawok, Hinaur iyom ninaur rakwa Yogo! Wa. Wa. Wa.. Kinaonak.




Yaloaput, 20 Mei 2026



Ditulis oleh:


J.W.Ronaldo

Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis dan menyuarakan isu-isu kemanusiaan, masyarakat adat di Tanah Papua, untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi blogger penulis; http://sabacarita.blogspot.com/



Comments

Popular Posts