Skip to main content

Featured Post

MEMBANGUN KEDAMAIAN DARI KELUARGA: Menghentikan Konflik Antar Suku dan Membangun Kedamaian dan Persatuan Sebagai Jalan Kedaulatan.

Ilustrasi Gambar : AI image generated (20/5/26) Melihat berbagai rentang konflik antar suku di Lembah Palim yang intens dan masif. Tentu mengantarkan kita pada berbagai anggapan dari berbagai perspektif. Ada yang melihat konflik antar suku sebagai kegagalan penginjilan, ada yang melihat ini sebagai kegagalan politik (kepemimpinan) hingga ada yang melihat ini sebagai kegagalan penegakan hukum. Tentu setiap perspektif dan sudut pandang itu tidak ada yang salah. Tetapi memberikan kita kekayaan dalam melihat persoalan dari berbagai perspektif guna membenahi konflik antar suku, sebagai manusia sosial (homo socius) . Kita mendambakan kedamaian, kenyamanan dan kebersamaan. Sebagaimana pasca konflik perang antar suku di Wouma, pada 15 Mei 2026. Baik Lani ataupun Yali-Hubla sama-sama korban dan berduka. tidak ada yang menang dalam perang dan tidak ada yang lebih jago daripada perang. Sebab perang hanya melahirkan kebencian, dendaman, duka dan luka. Atas berbagai korban material hingga kehilan...

SEBUAH TELAAH ANTROPOLOGIS TENTANG DANI: Apakah Merujuk Pada Lani ataukah Hubla?

Ilustrasi Gambar: Jronaldo (15/4/2026).



Tulisan ini hadir dari keresahan penulis ketika mendengarkan Akronim Ndani/Dani yang kini dikampanyekan dan dideklarasikan besar-besaran oleh Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, dengan sebutan Damai, Aman, Nyaman dan Indah.

Bahkan yang lebih parah, jika kata Dani itu diakui dan diterima sebagai suatu Identitas suku atau kelompok etnik di Tanah Papua, dalam hal ini Lani ataupun suku-suku yang mendiami Lembah Hubla yakni: (Yali-Hubla, Mukoko, Wio-Silimo, Uwelesi dsbg).

Atas dasar keresahan tersebut tulisan ini hadir bukan untuk memberikan Jawaban tetapi, untuk memantik discourse tentang sebutan Dani itu sendiri.

Dani itu sebenarnya merujuk pada suku Lani ataukah Hubla?

Dalam berbagai literatur tentang suku Dani di Tanah Papua. Selalu merujuk pada Suku Hubla bahkan Lani. Padahal sebutan Dani atau Ndani itu sendiri tidak diketahui oleh berbagai suku-suku di Tanah Papua, bahkan sebelumnya belum ada suku yang mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Ndani/Dani.

Namun, ketika kita mengetik Dani/Ndani pada mesin search engine maka akan merujuk pada suku-suku yang mendiami lembah Baliem. Bahkan yang lebih parah, jika ada person yang mengidentifikasi dirinya sebagai suku Dani.

Padahal jika sebutkan Ndani/Dani itu merujuk pada suku-suku yang mendiami lembah Baliem, maka itu kekeliruan terbesar yang patut dipertanyakan.

Sebab di Lembah Baliem terdiri dari berbagai suku seperti: (Mukoko, Wio-Silimo, Yali-Hubla) hingga berbagai suku lainnya yang hingga kini masih eksis.

Sedangkan jika, sebutan Suku Ndani/Dani itu merujuk pada suku Lani yang mendiami wilayah Barat dari Lembah Baliem.

Maka itu sebutan yang keliru, sebab mereka yang mendiami Pyramid, Beam, Maki, Tiompuk, Beam, Kwiyawagi, Karubaga, Puncak, Ilaga dan sekitarnya menyebut diri mereka dengan Sebutan Lani bukan Dani/Ndani.

Sebagaimana pernah dibenahi oleh Sem Karoba dalam buku Sejarah Gereja Baptis Papua Barat yang terbit tahun 2009, ditulis oleh Pares L.Wenda, Kiloner Wenda, Dkk. Bahwa; “Sebuatan Ndani itu sebenarnya merujuk pada Lani, ketika ada kontak dengan orang luar dengan Suku Moni, ketika ditanya tentang suku yang mendiami sebelah suku Moni, terdengar sebutan Ndani karena suku moni dalam pelafalannya tidak bisa menyebutkan huruf L.

Padahal, orang Lani kini menyebutkan diri mereka dengan sebutan Lani bukan Ndani/Dani. Sedangkan menurut suku-suku yang mendiami Lembah Baliem, secara etimologis kata Lani berasal dari kata lan (pergi) atau it lan mereka pergi atau elesi paga meke yang berarti Mereka yang berasal dari Barat atau yang mendiami daerah barat dari Lembah Baliem.

Sebutan Elesi Paga Meke, biasanya digunakan oleh suku-suku yang mendiami Lembah Baliem untuk membedakan mereka dan Suku Lani, yang mendiami daerah bagian Barat dari Lembah Baliem.

Sehingga sebutan Dani atau Ndani yang kini dirujuk sebagai sebutan baku untuk suku yang mendiami Lembah Baliem maka itu kesalahan ataupun kekeliruan yang pernah dan masih digunakan.

Apalagi jika, kata Dani secarah harfiah dikonotasikan ataupun diartikan sebagai Damai, Aman, Nyaman dan Indah.

Maka itu merupakan kekonyolan terbesar yang pernah dibuat oleh pemerintah, yang perlu dibenahi oleh berbagai suku-suku yang mendiami lembah Baliem. Karena ini menyangkut harkat dan identitas entitas suatu suku yang perlu dibenahi olehnya.

Sehingga melalui tulisan ini, penulis berharap adanya inisiatif lintas suku untuk mendirikan suatu asosiasi ataupun perkumpulan Antropolog Tanah Papua yang lahir dari anak-anak komunitas masyarakat adat di Tanah Papua dari berbagai latar belakang; Akademisi, Praktisi, Pemerhati ataupun kaum profesional lainnya.

Yang dapat menjadi garda terdepan dalam pemetaan sebutan suku-suku di Tanah Papua seraya merekomendasikan berbagai model pendekatan pembangunan berdasarkan karakteristik wilayah, adat-istiadat di berbagai wilayahnya masing-masing. Sebagai pijakan rekomendasi strategis bagi pelaku utama pembangunan di Tanah Papua, dalam hal ini pemerintah.



Yaloaput, 15 April 2026



Ditulis oleh:


J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang kini aktif menulis tentang isu-isu sosial politik di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi; http://sabacarita.blogspot.com/

Comments