MENEROBOS PRAKTIK PEREKONOMIAN LOKAL DÌ TANAH PÀPUÀ: Ketika Para Pengumpul Yang Memanipulasi Harga Panen.
![]() |
| Ilustrasi Gambar: Jronaldo (1/3/26). |
Pertumbuhan perekonomian lokal di Tanah Papua sangat mengkhawatirkan. Ketika Para petani yang memiliki tanah, benih hingga yang melakukan perawatan dan pengolahan hasil tanaman, kalah sains dalam menentukan harga panen di Pasar.
Siapa yang sebenarnya memainkan praktik-praktik kotor ini. Mengapa para pengumpul yang berperan sebagai distributor, yang tidak memiliki akses langsung atas penanaman, perawatan hingga panen, memanipulasi harga?
Hingga para petani lokal hidup dalam siklus kotor, bagaikan buruh yang bekerja untuk kekayaan tuan. Tanpa memiliki hak dan akses akan penentuan produksi yang dihasilkan dari hasil jerih payahnya. Mengapa para petani yang memiliki lahan yang luas, memilih benih, menanam dan yang melakukan pengelolaan tidak dapat menambahkan pekerjanya untuk memperluas lahan tani guna meningkatkan hasil produksi.
Sedangkan para pengumpul bisa menambahkan buruh/karyawannya tanpa harus takut pada gagal panen ataupun hasil panen dari setiap tanaman yang ditanam.
Apa yang salah dengan siklus perekonomian lokal di Tanah Papua? Mengapa tidak ada para pengumpul lokal yang muncul/ataupun para petani yang langsung mendistribusikan hasil panen kepada konsumen dengan harga yang ditentukannya tanpa harus takut dan tergantung pada para pengumpul.
Pertanyaan-pertanyaan ini menggelitik penulis. Ketika penulis berkesempatan untuk bergabung dalam pengumpulan data perekonomian di Tanah Papua, pada tahun 2022-2023. Yang diselenggarakan oleh salah satu Program Pendanaan terbesar dari Pemerintah Australia di bidang Pertanian dan Perikanan.
Penulis berkesempatan untuk melihat kondisi dan situasi para petani lokal di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya sekarang, Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura Provinsi Papua, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan sekarang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah sekarang. Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan sekarang.
Ditemukan siklus ketergantungan pada pengumpul yang mendistribusikan hasil panen kepada konsumen. Dengan harga pembelian yang murah dan menjual dengan harga yang mahal.
Yang perlu dilihat dan dibenahi dalam program-program pembinaan kelompok usaha kecil ataupun menengah yang diperuntukan kepada pemberdayaan petani lokal di Tanah Papua. Ada siklus kotor yang dimainkan oleh para pengumpul. Para pengumpul ini adalah sekelompok orang yang menjadi penghubung/perantara dalam mendistribusikan hasil panen ataupun produk yang sudah dikemas dalam kemasan kepada konsumen. Yang mendistribusikan produk ke luar Tanah Papua maupun didalam Tanah Papua.
Karena memiliki koneksi kepada konsumen, memiliki sumber daya pengangkutan serta akses langsung ke pasar serta memiliki hak atas penentuan harga. Para pengumpul membeli hasil panen dengan hitungan harga yang relatif murah dan menjualnya kepada konsumen dengan harga yang mahal.
Praktik-praktik kotor inilah, yang semakin memperparah jurang ketimpangan ekonomi antar para petani lokal dan para pengumpul yang notabene para transmigran. Bukan karena para petani lokal tidak bekerja secara maksimal ataupun malas tetapi, mereka tergantung pada siklus pendistribusian dan pembagian hasil yang kadang tidak menguntungkan mereka.
Inilah bencana perekonomian lokal yang sedang bertumbuh dan berkembang, agar tidak ada petani-petani lokal yang bertumbuh dan mampu bersaing dalam perekonomian nasional maupun internasional. Sehingga jika, ada program pemberdayaan kelompok tani ataupun usaha ekonomi kecil maupun menengah yang diperuntukan kepada penduduk orang asli Papua.
Diperlukan pendekatan serta pola-pola tersendiri, agar menghadirkan petani-petani mandiri. Yang mampu mengolah serta mendistribusikan hasil panen kepada konsumen tanpa harus tergantung pada para pengumpul.
Ataupun mendirikan badan usaha milik desa (BUMDES) bahkan koperasi tingkat Desa, Distrik maupun Kabupaten yang berperan sebagai perantara yang dapat mendistribusikan hasil panen para petani ke berbagai penjuru tanah Papua maupun luar Papua. Agar para petani mendapatkan hasil dan manfaat yang adil.
Guna membendung praktik-praktik kotor yang sedang dimainkan oleh para pengumpul yang suka memonopoli harga semaunya dan mempertahankan siklus kotor yang sedang dipeliharanya agar mengorbankan petani lokal di Tanah Papua.
Seraya mendoktrin para petani kurang bekerja keras. Inilah wajah perekonomian lokal di Tanah Papua, yang perlu dibenahi bersama, guna mengantarkan para petani lokal yang mandiri, sejahtera tanpa harus bergantung dan mengharapkan hidup pada profesi PNS yang seringkali mengabaikan penduduk orang asli Papua.
Yaloaput, 1 Maret 2026
Ditulis oleh:
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN , yang kini aktif menulis tentang isu-isu sosial politik di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi; http://sabacarita.blogspot.com/
