Featured Post

KOLEKTIVISME ATAUKAH INDIVIDUALISME: Benturan Ideologis Di Tanah Papua.

Ilustrasi Gambar: Jronaldo (27/3/2026).



Penduduk dataran tinggi Papua, yang dalam tulisan ini disebut Sang Agriculturalist merupakan masyarakat yang hidup dan bertumbuh dalam ikatan Kolektifnya.


Kolektivisme merupakan relasi sosial yang telah menumbuhkan sikap saling menopang antar sesama. Tentu sikap ini memilih peran penting dalam membentuk watak dan mentalitas diri sang agriculturalist sebagai homo socius (manusia sosial). 


Yang memaknai dirinya sebagai entitas sosial yang hidup bersama dan membentuk identitas kesukaan secara bersama.  Yang kini berbentur dengan doktrin individualisme yang meng eksklusif kebebasan individu dan menumbuhkan ekonomi individualis yang kapitalistik.


Dengan pelabelan stigma negatif yang dikondisikan kepada sang agriculturalist. Dimana mereka di stigma sebagai kelompok yang tidak bisa kaya karena menjadi orang Papua selalu menuntut beban sosial yang besar. Seperti: harus memberikan uang jutaan rupiah ketika keluarga ditimpa masalah bahkan dalam bahas sang agriculturalist sendiri bahwa "orang papua itu kasihnya besar."


Padahal persoalannya bukan soal kasih besar atau kecil ataupun pemalas dan sulit menyelesaikan masalah sendiri karena selalu mengharapkan uluran tangan keluarga dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang dihadapi.


Tentu doktrin-doktrin individualistik yang meng eksklusif individualisme perlu dibendung dengan kolektivisme dalam memainkan peran ekonomi di Tanah Papua. Karena bagi sang agriculturalist keluarga adalah kekayaan, martabat dan harkat yang harus dikedepankan dan diutamakan. 


Praktik-praktik inilah yang sering disebut dalam kajian antropologi ekonomi sebagai resiprositas negatif maupun positif.  Tergantung nilai transaksi (pertukaran).


Karena itu, tulisan ini, hanya akan fokus mewacanakan kolektivisme sebagai bentuk ideal yang praktis telah dihidupkan oleh Sang Agriculturalist, dalam menopang dan menumbuhkan perekonomian lokalnya, yang patut dipertahankan dan dikondisikan dalam membangun ekonomi lokal di Tanah Papua. 


Guna membendung peran ekonomi modern yang dikekang kuat oleh ekonomi individualistik yang kapitalistik yang telah dikondisikan untuk mencerai beraikan kolektivisme Sang Agriculturalist.


Karena itu, penulis beranggapan bahwa mentalitas individualistis telah menjadi pesan utama di Tanah Papua dalam membangun ekonomi modern yang kapitalistik harus dibendung dengan mewacanakan ekonomi kolektivisme sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan yang harus dipertahankan dan dihidupkan oleh sang agriculturalist, yang mendiami dataran tinggi  tanah Papua



1. Eksklusivisme Ekonomi Kapitalistik.


Eksklusivisme ekonomi individualistik di tanah Papua. Yang bertumbuh subur dengan slogan 'kalau mau kaya pelit dulu". Merupakan pola yang sebenarnya menyerang bentuk kolektivisme komunitas masyarakat adat di Tanah Papua. 


Yang sebenarnya tidak layak untuk dihidupkan dan wariskan.  Sebab tentu manusia sebagai homo socius dan homo economicus hanya dapat hidup dalam ikatan dan jejaring sosialnya. Karena itu kolektivisme merupakan bentuk ideal yang praktis, yang dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam membangun ekonomi kerakyatan di Tanah Papua.


Sebab perekonomian kapitalistik, juga bertumbuh bukan karena modal tetapi sangat tergantung dan bergantung dengan kepercayaan konsumen. Sebab ekonomi kapitalistik yang bermodal besar dengan memproduksi produk yang banyak tanpa adanya konsumen akan mandek dan hambruk. 


Sehingga tumbuh-kembangnya ekonomi kapitalistik sangat tergantung sama kepercayaan konsumen. Kepercayaan konsumen akan tergantung sama nilai dari barang yang diproduksi. 


Hal ini menunjukan bahwa, pertumbuhan ekonomi kapitalis sebagai ekonomi modern yang perlu dikondisikan di Tanah Papua dan dihidupkan oleh komunitas masyarakat adat, ataupun dikondisikan oleh sang Agriculturalist merupakan bentuk eksklusi yang perlu dipertimbangkan.


Sebab Sang agriculturalist maupun komunitas masyarakat adat di Tanah Papua yang telah hidup dalam ikatan dan jejaring kolektivisme akan membayar harga yang mahal yakni menjadi pribadi yang individualist dan tercerai dari ikatan serta identitas komunalnya.



2. Ekonomi Kolektivisme Sebagai Jalan Kemandirian. 


Sang Agriculturalist telah memilih kekuatan kolektif. Yang dapat dijadikan sebagai pijakan dalam membangun ekonomi tolong menolong. Tidak hanya sekedar tolong menolong tetapi sebagai aset penting dalam membangun jejaring ekonomi.


Dimana kerabat dekat hingga jauh bahkan teman dagang dapat dijadikan sebagai mitra yang saling mendukung dan menopang dalam membangun perekonomian lokal. Yang dapat berperan sebagai konsumen, distributor ataupun peran-peran strategis lainnya. 


Jajaring ini dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam membendung ekspansi ogay yang menguasai sektor perekonomian di Tanah Papua. 


Baik itu,  usaha-usaha kecil hingga menengah yang sedang dijalankan oleh Sang Agriculturalist dipasok dengan pembeli tetap oleh sang agriculturalist sendiri.  Seraya tetap menjaga, merawat relasi kolektifnya sebagai warisan leluhur yang patut diwariskan bagi anak cucunya. 


Sebab, tentu ekonomi kapitalistik tidak akan bertumbuh tanpa kepercayaan konsumennya. demikian juga ekonomi koletifisme yang perlu ditumbuhkan kembangakn oleh sang agriculturalist dengan bermodal relasi sosial kolektifnya sebagai modal dan kekuatan dalam menopang ekonomi tolong menolong sebagai kekuatan kolektifnya. 



3. Kesimpulan. 


Eksklusivisme ekonomi kapitalisme yang individualistik tentu perlu dibendung dengan wacana ekonomi kolektivisme yang seimbang. Yang diwacanakan oleh para ahli, praktisi maupun kaum profesionalisme di Tanah Papua. 


Sebab untuk menginternalisasikan ekonomi kapitalistik bagi komunitas masyarakat adat di Tanah Papua yang telah hidup dan bertumbuh dalam ikatan kolektifnya tentu memiliki implikasi sosial, yang besar dalam membangun dan membentuk ulang jati dirinya sebagai komunitas masyarakat adat. 


Hal ini yang perlu dilihat dan diwacanakan oleh para pemerhati maupun praktisi dan para ahli dari Tanah Papua. Sebab membangun ekonomi individualistik yang kapitalistik bukan saja soal ekonomi modern yang menguntungkan dan bertumbuh dalam sistem persaingan pasar yang ketat tentu akan membawa implikasi sosial yang besar dalam menumbuhkan new relation.


Yang perlu dipertimbangkan oleh sang agriculturalist maupun komunitas masyarakat adat di Tanah Papua.


Sebab ikatan kolektifnya dapat diinternalisasikan dalam pola ekonomi modern dengan membentuk lembaga swadaya ekonomi sang agriculturalist seperti: koperasi tanpa harus menghilangkan sifat kolektifnya.





Yaloaput, 27 Maret 2026




Ditulis oleh:



J.W.Ronaldo

Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN. Yang aktif menulis tentang isu-isu sosial-politik dan aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lainnya dapat berkunjung melalui: https://sabacarita.blogspot.com/




Seri Sang Agriculturalist-Edisi Ke XVI


Comments

Popular Posts