GENERALISASI KONFLIK ETNIK DI TANAH PAPUA: Biang Kerok Propaganda Yang Luput Dari Sentuhan Hati Nurani.

Ilustrasi Gambar: Jronaldo (27/2/2026)


Penormalisasi konflik etnik di Tanah Papua yang marak pasca pembentukan, pengesahan Provinsi Baru Di Tanah Papua, patut dinilik. Dengan hadirnya berbagai wilayah pemekaran baru, dengan dalil pemerataan serta percepatan pembangunan. Namun disisi lain konflik antar etnik hingga berbagai kejahatan kriminal meningkat drastis, hampir seluruh Tanah Papua.

Apakah ini buah dari Pemekaran wilayah? Yang disebut sebagai buah pemerataan dan percepatan pembangunan. Yang mengkotak-kotak etnik group di Tanah Papua berdasarkan pemekaran wilayah yang dibagi atas 6 wilayah persebaran budaya (daerah budaya) di Tanah Papua.

Apakah ini bukti nyata, itikad baik dari pemerintah? Ataukah ini merupakan siasat untuk menghidupkan perang antar suku. Dan membatasi persebaran kelompok etnik di Tanah Papua dan memulangkan etnik hingga suku-suku di Tanah Papua kembali ke wilayah adatnya masing-masing.

Sebab intensitas konflik antar kelompok etnik kini semakin meningkat di berbagai wilayah pemekaran administratif baru. Ketegangan sosial antar kelompok etnik antar Papua di Tanah Papua kiang kencang.

Dan malah menghidupkan konflik-konflik primordialisme, dimana tiap kelompok suku merasa memiliki hak di wilayah adatnya sendiri tanpa mengindahkan kehadiran kelompok suku lain yang telah menjadi rekan barter hingga ikatan kekeluargaan yang dibangun sejak dahulu kala.

Apakah ini situasi yang diharapkan oleh penduduk orang asli Papua dari pemekaran wilayah? Ataukah sebuah siasat yang diinisiasikan oleh institusi negara secara terencana. Guna menekan mobilisasi dan gerakan separatisme di Tanah Papua, yang pergerakannya kian meningkat secara drastis.

Sehingga, konflik antar etnik group di Tanah Papua dikondisikan, diupayakan dengan berbagai macam cara untuk menutupi konflik kekerasan yang sebenarnya. Dengan cara memperbesar, memelihara serta mempublikasikan secara masal dan masif melalui berbagai saluran media sosial, cetak.

Sebagaimana perang masalah tapal batas antara suku Kamoro dan Mee di Provinsi Papua Tengah, hingga Perang antara suku Yali dan Lani serta Nduga dan Lani, di Wamena, Provinsi Papua Pegunungan.

Intensitas konflik antar antar suku yang marak, di Tanah Papua perlu dilihat, dicermati sebab konflik meningkat bersamaan dengan maraknya pemekaran daerah administratif baru di Tanah Papua.

Karena itu, diperlukan upaya bersama, guna menumbuhkan kesadaran dan membangun tali kasih sebagai ras serumpun Melanesia di Tanah Papua dalam membendung sekat-sekat pemisah yang disiasati oleh negara melalui pemekaran wilayah administratif baru yang menjadi alat pemecah antar kelompok etnik di Tanah Papua, sebagai se rumpun ras Melanesia.



Yaloaput, 27 Februari 2026




Ditulis oleh:


J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis dan menyuarakan isu-isu kemanusiaan, masyarakat adat di Tanah Papua, untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi blogger penulis; http://sabacarita.blogspot.com/