PANGAN: Penindasan dan Penjajahan Di Tanah Papua.
![]() |
| Gambar Ilustrasi: Jronaldo (1/4/2026) |
Penjajahan di Tanah Papua tidak hanya berperan di Tatanan Fisik. Tetapi juga bersarang dan bertumbuh dalam tatanan psikis komunitas masyarakat adat di tanah Papua, dengan mengkondisikan dan menumbuhkan mentalitas ketergantungan bagi komunitas masyarakat adat.
Yang dikondisikan melalui upaya Indonesianisasi melalui gastro kolonialisme pangan di Tanah Papua. Yang lebih dikenal dengan Padinisasi, yang memaksakan Masyarakat adat di Tanah Papua, terlebih khusus yang mendiami dataran tinggi Papua dari lembah Hubula hingga ke negeri Meeuwodide.Untuk mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Padahal Komunitas masyarakat adat yang perna hidup dari hasil pembudidayaan keragaman pangan yang ditanam tanpa bantuan pestisida.
Kini dipaksakan untuk menerima nasi sebagai makanan sehat yang patut dikonsumsi oleh orang Papua, hingga menjadi jamuan wajib yang harus disediakan di lumbung dapur dan di meja makan keluarga komunitas masyarakat adat.
Padahal nasi tidak hanya sekedar pangan tetapi juga sebagai wajah ketergantungan dan penindasan yang sengaja dikondisikan guna menumbuhkan mentalitas ketergantungan komunitas masyarakat adat di tanah Papua oleh pemerintah Indonesia melalui konsumsi nasi.Kehadiran nasi telah menggeser konsumsi pangan lokal bagi masyarakat adat di Tanah Papua. Sebab nasi telah menjadi jamuan wajib Yang harus disediakan dan dihidangkan dalam jamuan keluarga hingga perayaan hari-hari besar maupun ritual adat.
Hal ini patut di nilik oleh berbagai pihak di Tanah Papua. Terlebih khusus kaum cendekiawan maupun para kaum professional, sebab konsumsi nasi yang berlebihan bukan hanya membawa sakit fisik karena kadar gula yang tinggi yang dikandung oleh beras.
Tetapi juga, beras telah memonopoli mentalitas komunitas masyarakat adat yang dulunya, perna hidup tanpa nasi namun, kini tidak bisa hidup maupun tidur sehari tanpa sepiring nasi.
Sebagaimana pengakuan YK salah satu petani yang menjual sayur-sayuran, ubi, rica dan bawang merah.
"Mama jualan ubi, sayur, bawang merah dan rica supaya beli beras karena mama punya anak-anak di rumah tidak bisa makan ubi, walaupun bisa. Harus ada nasi. Kalau tidak ada biasa mama minta satu piring sama tetangga."
Tentu persoalan ini bukan soal kesehatan fisik saja tetapi, telah merembes dan menumbuhkan mentalitas penduduk orang Papua yang merasa miskin jika tidak mengkonsumsi nasi.
Padahal leluhur penduduk orang asli Papua perna hidup berdaulat tanpa nasi. Sebab Ubi Jalar (sweet potatoes), keladi, pisang, sagu adalah sumber hidup yang dibudidayakan dan dikonsumsi hingga berbagai sayur-sayur hijau yang dibudidayakan di sekitar pekarangan rumah.
Inilah yang perlu dihidupkan kembali, dibudidayakan, diwacanakan dan dijalankan sebagai jalan kehidupan (the ways of life) oleh komunitas masyarakat adat di tanah Papua.
Guna membendung dan memutuskan jembatan ketergantungan yang disiasati oleh pemerintah Indonesia. Sebab kedaulatan atas pangan adalah kedaulatan atas hidup keluarga yang perlu dijaga sebagaimana para leluhur sang Agriculturalist, di tanah Papua.
Yang perna hidup ribuan tahun tanpa nasi dan telah mewariskan berbagai jenis umbi-umbian, pisang, keladi, sagu, kacang, sayur yang dibudidayakan tanpa bantuan pestisida sebagai warisan leluhur selain tanah dan hutan.
Sehingga upaya-upaya ini perlu dihidupkan sebagai warisan leluhur yang patut dijaga dan diwariskan. Melalui pewacanaan ulang para Kaum Profesional, Aktivis Kemanusiaan, Gembala/Pendeta.
Agar komunitas masyarakat adat di tanah Papua tidak hanya membudidayakan keragaman pangan. Tetapi juga mengkonsumsi dan memutuskan ketergantungan terhadap beras.
Sebagai upaya untuk memutuskan ketergantungan pangan dan merebut kembali kedaulatan pangan dari tangan pemerintah dan pebisnis kolot, yang diinisiasikan oleh setiap keluarga komunitas masyarakat adat di Tanah Papua. Sebab ketergantungan ini mau diputuskan ataukah tidak, ada di tangan tiap individu keluarga komunitas masyarakat adat di Tanah Papua.
Walani, 1 April 2026
Ditulis Oleh:
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN. Yang aktif menulis tentang isu-isu sosial-politik dan aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lainnya dapat berkunjung melalui: https://sabacarita.blogspot.com/
Interview:
WK. (2026, 30 Maret). Wawancara tingkat konsumsi beras. [Wawancara oleh penulis]

Comments