PARADOKS LEMBAH PRODUKTIF YANG SUBUR DI DATARAN TINGGI PAPUA: Yang Kini Didiami Manusia Yang di Miskinkan.
![]() |
| Ilustrasi Gambar: AI Image (26/8/2026). |
Dari Lembah Balim yang luas hingga bukit-bukit aluvial yang curam di Balim Utara yang membentuk lembah-lembah kecil yang indah. Dari Meeuwodide, lembah Kaamu, Tigi hingga Tage.
Terekam kekaguman para outsider yang pertama kali perna berkunjung, melayani dan hidup berdampingan dalam pewartaan Injil bagi komunitas sekitar.
Tentu kekagumannya tentang kemaslahatan penataan pertanian yang perna dimiliki oleh Sang Agriculturalist yang mendiami Lembah Balim, Balim Utara (Tieyom), hingga Meeuwodide dari lembah Kaamu, Tigi hingga Tage yang tersebar di sekitar Wissel Meren.
Adalah wujud nyata keberhasilan pembudidayaan dan pengembangan berbagai varietas tanaman pangan berjenis umbi-umbian, pisang, tebu, buah merah hingga kelapa hutan.
Berkat ketekunan, keuletan dan kemahirannya berbagai jenis umbi-umbian, pisang, tebu, buah merah, kelapa hutan pun berhasil dikembangkannya dengan berbagai varietas dan rasa.
Sebagaimana dalam kunjungan ahli botani Belanda, Chris Versteegh yang mengunjungi Jiwika tahun 1961 “mengakui bahwa perkebunan batatas orang Hubla itu jauh lebih maju dari pada apa yang telah dilakukan pemerintah Belanda di pusat penelitian pertanian di Manokwari waktu itu.” Sedangkan tim survey Papua Barat-Disc/Mahitala Unpar yang mengujungi Jiwika mencatat ada 57 varietas ubi jalar yang dapat dibedakan oleh masyarakat Hubla dari daun dan baunya. (Adtjondro 2000).
Tentu berbagai keberhasil pengembangan varietas tanaman di dataran tinggi Papua tidak hanya pada petatas tetapi ada beberapa jenis tanaman yang telah berhasil dibudidayakan dan dikembangan oleh masyarakat disana.
Berbagai keberhasilan ini didukung oleh peralatan kerja yang sederhana tanpa bantuan logam yang lebih dikenalkan dengan istilah hortikultura dalam kajian-kajian antropologis.
Yang membuat para outsider kagum adalah keberhasilan sistem pertanian; dari penataan kebun, pengelolaan irigasi, perawatan hingga tingkat produksi ubi jalar yang juga mendukung populasi penduduk di dataran Tinggi Papua yang dinilai lebih padat penduduknya dibandingkan daerah pesisir, berkat pengelolaan pertanian intens komunitas masyarakat adat di dataran tinggi Papua.
Namun, sangat disayangkan, segala keberhasilan penduduk dataran tinggi Papua di bidang pertanian ini, tidak dipandang dan dilihat pemerintah Indonesia sebagai kekuatan dalam mensupport pembangunan di bidang pertanian. Pemerintah malah hadir dengan pola dan pengenalan varietas baru hasil pengembangan industri-industri pertanian yang tentu membuat masyarakat adat di dataran tinggi Papua yang menerima dan menanam jenis-jenis varietas tanaman hasil pengembangan industri sangat tergantung dengan suplay bibit hingga pupuk.
Yang tentu menjadi persoalan baru bagi Sang Agriculturalist di dataran tinggi Papua yang dahulu dikagumi atas keberhasilannya dalam pengelolaan pertanian intens hanya bermodal tugal dan berhasil mengembangan berbagai varietas tanaman.
Dimana berbagai petani padi di lembah Balim yang telah berhasil menanam padi kini mengalami banyak kendala dalam memproduksi beras dalam mendukung ketahan dan kecukupan pangan untuk tingkat kabupaten ataupun provinsi sehingga berbagai beras yang dikonsumsi di Wamena tergantung pada import.
Dan menjadikan, komunitas masyarakat adat di Tanah Papua, terkhusus yang mendiami dataran Tinggi Papua, dari lembah Balim hingga Meeuwodide kini hidup bergantung pada berbagai produk impor yang tentu mengandung berbagai zat/bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Sebab kebutuhan pangan keluarga yang tidak terpenuhi bahkan yang dipenuhi dari berbagai produk-produk yang mengandung berbagai zat/bahan kimia telah memberikan dampak yang besar dalam pertumbuhan angka gizi buruk, mortalitas, hingga angka kemiskinan yang akut bagi komunitas masyarakat adat di Tanah Papua, khususnya penduduk yang mendiami dataran Tinggi Papua, yang dinilai 10 kali lebih miskin dari penduduk yang mendiami pulau Jawa ataupun 3 kali lebih miskin dari komunitas masyarakat adat yang mendiami wilayah pesisir Tanah Papua.
Yang perlu dibenahi dengan menghidupkan warisan leluhur komunitas masyarakat adat di dataran tinggi Papua, guna mengkonsumsi apa yang ditanam, bukan menerima dan mengkonsumsi produk-produk para ogay yang merupakan biang kerok kemelaratan yang menebar dan menciptakan ketergantungan dan keterasingan bagi kitorang.
Yaloaput, 26 Agustus 2026
Ditulis oleh:
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi blogger penulis; http://sabacarita.blogspot.com/
Edisi ke XX Seri Sang Agriculturalist
Berikan tanggapan, masukkan, saran maupun data-data tentang kisah-kisah luhur maupun perjalan hidup nenek moyang orang Papua tentang dalam pengelolaan dan pengembangan pertanian, dengan cara mengirim pesan tertulis kepada penulis melalui:
WA: 0821-4651-7027
Email: rjigibalom09@gmail.com
Dengan memberikan data maupun saran yang konstruktif, anda telah berkontribusi dalam penulisan edisi sejarah seri dengan judul: Sang Agriculturalist Dari Dataran Tinggi Papua Yang Dilupakan.
References
Adtjondro, George Junus. 2000. Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia. Edited by Amiruddin. Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).

Comments