Basis argumentasi dalam tulisan ini lahir dari konsep local dari Dataran Tinggi Papua. Yang telah hidup dalam tatanan Praktis kehidupan sang Agriculturalist dari negeri Meewodide, yang kini tergolong dalam wilayah administratif Provinsi Papua Tengah.
Yang menyebutkan dirinya Mee , yang berarti manusia sejati. Yang bertumbuh dalam kemandirian, kedaulatan atas hidupnya sebagai manusia.
Sehingga konsep/istilah Owaada dalam tulisan ini digunakan sebagai jalan kemandirian yang bertumbuh dari upaya pertanggungjawaban diri atas kehidupan yang dimulai dari pengolahan pangan di pekarangan rumah.
Istilah Owaada digunakan dalam tulisan ini sebagai counter narrative untuk memutuskan ketergantungan dari berbagai produk para outsider. Yang membangun jaring keterhubungan dan ketergantungan melalui wacana modernisme.
Modernisme yang dikonotasikan sebagai sikap hidup bersih, higienis dan sehat. Dengan paksa diintegrasikan dalam kehidupan komunitas masyarakat adat. Agar dengan mudahnya menerima dan mengkondisikan kehidupan dengan mulus dalam menerima berbagai pengaruh dari para outsider.
1. Modernisasi Model Penormalisasi Daya Pengaruh.
Modernisme perlu dilihat juga sebagai wabah yang patut dibendung. Sebab modernisme tentu tidak luput dari berbagai pengaruh buruk yang merusakan tatanan sosial kehidupan komunitas masyarakat adat dalam sekejap.
Sebab merusak budaya komunitas masyarakat adat sebagai filter (penyaring) yang mampu menyaring berbagai pengaruh yang patut diinternalisasi dan bahkan yang harus dicopot.
Modernisme perlu juga dilihat sebagai siasat, upaya para outsider untuk mengkungkungkan, menguburkan berbagai adat-istiadat, kebudayaan yang dihidupkan dan menghidupkan komunitas masyarakat adat, sebagai sebuah entitas manusia.
Dengan percikan modernisme; berbagai modal dasar yang patut dijaga sebagai warisan otentitas komunitas masyarakat adat, hingga yang berperan sebagai alat penyaring. Terkikis, termakan arus modernisme. Walaupun tidak semua yang ditawarkan modernisme menjadi dasar pilihan hidup yang tepat.
Sebab ada berbagai sekat, celah yang diintegrasikan ketika modernisme diterima sebagai cara hidup yang lebih layak daripada kehidupan sebelumnya.
2. Owaada Jalan Kedaulatan Komunitas Masyarakat Adat.
Kedaulatan atas hidup adalah kemerdekaan sejati ketika komunitas masyarakat adat dapat menentukan dan memilih mana yang mau dimakan dan mana yang tidak harus dimakan.
Ini bukan soal makan dan minum (pangan) namun, tentang kedaulatan, kemandirian dan harga diri dan harkat. Owaada bukan sekedar jalan kemandirian yang menawarkan kedaulatan atas pangan.
Tetapi juga kedaulatan atas hidup. Itulah Owaada yang lahir, bertumbuh dari philosofi kehidupan komunitas masyarakat adat Mee di negeri Meewodide.
Tempat Sang Agriculturalist dan Big Man bertumbuh dalam kemandirian dan kedaulatan atas hidupnya, yang diinisiasikan dari rasa syukur dan rasa tanggung jawab atas pemeliharaan keluarga yang dimulai dari pekarangan rumah.
Pekarangan rumah yang dirawat, dikelola dengan sikap bertanggung jawab lah yang menghidupkan keluarga dalam kemerdekaan dan membentuk kelompok komunitas yang mandiri, bermartabat serta berpendirian dari berbagai bentuk penindasan.
Sehingga komunitas masyarakat adat di Tanah Papua patut; menginternalisasikan Owaada sebagai sebuah konsep praktis dalam tatanan kehidupan. Terlebih khusus sang Agriculturalist yang mendiami lembah Besar Meewodide, Lembah Balim hingga penduduk-penduduk dataran tinggi Papua yang dikenal sebagai Sang Agriculturalist yang ulet.
Sebagai Jalan revolusi keluarga guna membendung berbagai jaring ketergantungan yang ditawarkan para outsider. Dengan menumbuhkan Owaaaa sebagai pusat kehidupan keluarga yang menopang segala tatanan kehidupannya sebagai manusia yang merdeka, sebagaimana harusnya.
3. Kesimpulan.
Modernisme telah menjadi biang kerok penghancur filter (penyaring) tatanan kehidupan komunitas masyarakat adat di Tanah Papua.
Guna membendung modernisme dengan segala keburukannya. Diperlukan alat penyaring yang kuat. Agar menahan dan menyaring berbagai pengaruh, yang patut diinternalisasi dan mana yang tidak.
Sebab pada hakikatnya modernisme tidak menawarkan dan memberikan ruang hidup yang lebih baik. Karena itu Owaada hadir sebagai counter narrative penting yang harus dihidupkan oleh keluarga komunitas masyarakat adat di Tanah Papua. Sebagai entitas yang merdeka, berdaulat dan bebas dari berbagai tindakan semena-mena atas nama otoritas ataupun modernisme.
Sebagai jalan kemandirian dalam membendung pengaruh-pengaruh buruk atas nama modernisasi yang diinternalisasikan dalam tatanan kehidupan komunitas masyarakat adat.
Yang telah menumbuhkan ketergantungan komunitas masyarakat adat di Tanah papua akan berbagai produk para outsider yang tidak layak diterima dan internalisasikan. Karena itu Owaada adalah suatu gerakan praktis yang patut dihidupkan kembali, yang dimulai dari halaman pekarangan rumah sebagai bentuk revolusi keluarga, komunitas masyarakat adat di Tanah Papua.
Ditulis oleh:
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN ,yang kini aktif menulis tentang isu-isu sosial politik di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi; http://sabacarita.blogspot.com/
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN ,yang kini aktif menulis tentang isu-isu sosial politik di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi; http://sabacarita.blogspot.com/
