Skip to main content

Featured Post

KOLEKTIVISME ATAUKAH INDIVIDUALISME: Benturan Ideologis Di Tanah Papua.

Ilustrasi Gambar: Jronaldo (27/3/2026). Penduduk dataran tinggi Papua, yang dalam tulisan ini disebut Sang Agriculturalist merupakan masyarakat yang hidup dan bertumbuh dalam ikatan Kolektifnya. Kolektivisme merupakan relasi sosial yang telah menumbuhkan sikap saling menopang antar sesama. Tentu sikap ini memilih peran penting dalam membentuk watak dan mentalitas diri sang agriculturalist sebagai homo socius (manusia sosial).  Yang memaknai dirinya sebagai entitas sosial yang hidup bersama dan membentuk identitas kesukaan secara bersama.  Yang kini berbentur dengan doktrin individualisme yang meng eksklusif kebebasan individu dan menumbuhkan ekonomi individualis yang kapitalistik. Dengan pelabelan stigma negatif yang dikondisikan kepada sang agriculturalist. Dimana mereka di stigma sebagai kelompok yang tidak bisa kaya karena menjadi orang Papua selalu menuntut beban sosial yang besar. Seperti: harus memberikan uang jutaan rupiah ketika keluarga ditimpa masalah bahkan dalam b...

KOMPETISI SUMBER KESERAKAHAN: Ketika Individualisme Menggeser Kolektivisme Sang Agriculturalist di Tanah Papua.

Ilustrasi Gambar: Jronaldo (15/1/2026).






Kolektivitas sang agriculturalist di Tanah Papua merupakan suatu sistem sosial yang menopang kemasyarakatan penduduk dataran Tinggi Papua.


Kolektivisme ini, bertumbuh sebagai wujud nyata kepekaan, kepedulian antar sesama manusia tanpa memandang status sosial maupun membentuk hirarki sosial baru yang membangu sekat pemisah.

Namun, kolektivisme Sang Agriculturalist Dataran Tinggi Papua kini, dibendung oleh sekat-sekat modernisme yang menumbuh-kembangkan watak, sikap dan mentalitas individualistik melalui pendidikan formal yang lebih mengutamakan kompetisi bukan kooperatif.

Pola kompetitif inilah yang menjadi ruang bagi Individualisme bertumbuh secara bebas tanpa ada batasan hingga membentuk sikap dan mentalitas rakus, tamak dan kejam bagi sesama manusia.  
Sikap tamak, rakus, kejam dan barbar ini bukanlah warisan leluhur sang Agriculturalist yang patut dipelihara apalagi diwariskan bagi anak-cucu. 

Karena sikap individualistik adalah wabah yang patut diantisipasi, sebagaimana diungkapkan oleh Thomas Hobbes “Homo Homini Lupus” manusia adalah serigala bagi manusia, adalah basis ideologi individualisme.

Yang merupakan ide tentang kompetisi melawan yang lain daripada bekerja sama dengan yang lain, ( Kelsay, John & Sumner B. Twiss:2007.hlm.173)


Yang merupakan biang kerok yang menumbuhkan sikap; ketamakan, ketidakpedulian antara sesama komunitas bahkan sikap saling menolak, yang tidak layak dipertahankan dan dipelihara oleh penerus sang agriculturalist di dataran Tinggi Papua.

Sebab watak individualisme merupakan alat conquistador yang menumbuh-kembangkan sikap permusuhan, kebencian antar sesama klen komunitas masyarakat adat di Tanah Papua.

Yang sebenarnya bukan watak dan mentalitas sang Agriculturalist yang perna diwariskan oleh leluhur penduduk orang asli Papua. 

Karena itu, tulisan ini hadir demi menilik kompetisi (persaingan) sebagai biang kerok dan sumber malapetaka yang menumbuh-kembangkan mentalitas individualistis, sebagai alat pecah belah oleh sang conquistador.

Guna menghancurkan tatanan kemasyarakatan Sang Agriculturalist di Dataran Tinggi Papua sebagai komunitas masyarakat adat yang bertumbuh dalam sikap gotong royong, bantu-membantu sebagai sikap, yang menumbuh-kembangkan mentalitas dan watak kolektivitas, kebersamaan sebagai nilai, sikap yang harus dipelihara.

Namun, dengan pola pendidikan formal pemerintah Indonesia dengan label modernisme telah menumbuhkan benih-benih individualistik melalui pendidikan formal yang menjadikan wadah bagi tumbuh-kembang induvidualisme melalui sistem pendidikan yang kompetitif.

Pola-pola pengajaran yang mengutamakan kompetensi inilah yang membentuk sikap-sikap individualistik, yang menumbuh-kembangkan sekat-sekat pemisah antara yang kompeten dengan yang tidak kompeten, antar yang rajin dan tidak rajin, antar yang pintar dan bodoh, sehingga membentuk mentalitas superior dan inferior antar sesama klen maupun suku dan melahirkan kelompok sosial yang baru.

Sebagai sumber ketamakan, kebencian dan ambisi-ambisi kotor demi keuntungan pribadi ataupun segelintir keluarga.

Sehingga untuk membendung sikap dan watak individualistik yang rakus, tamak dan kejam. Diperlukan upaya bersama untuk menilik kembali jejak-jejak historis, sebab sikap dan mentalitas individualisme, tidak perna diwariskan oleh leluhur penduduk orang asli Papua Yang mendiami dataran tinggi.

Yang hidup sebagai sang Agriculturalist, yang bertumbuh dalam watak dan sikap kolektivisme dan memelihara harmoni kebersamaan sebagai sikap, watak dan mentalitas yang harus dipelihara bersama, sebagai homo homini socius dan bukan homo homini lupus .

Karena itu tulisan ini hadir sebagai upaya untuk menumbuhkan kembali wacana tentang kolektivisme bukan individualisme yang sudah perna diwariskan leluhur Sang Agriculturalist Dataran Tinggi Papua.

Yang kini sedang bertumbuh dalam bayang-bayang kompetisi sebagai alat normalisasi tumbuh-kembangnya watak dan mentalitas Individualistik. 

Dan kita memerlukan upaya-upaya kolaboratif antara dewan adat, gereja, akademisi, praktisi maupun pemerhatin budaya, masyarakat adat serta khalayak umum di tanah Papua.





Ditulis oleh:


J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis tentang isu-isu sosial-politik di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lainnya dapat berkunjung melalui: https://sabacarita.blogspot.com/


Daftar Pustaka:

Kelsay, John, dan Sumner B. Twiss. Agama dan Hak-hak Asasi Manusia. Penerbit, interfidei, 2007.


Comments

Popular Posts