![]() |
| Ilustrasi Gambar: Jronado (5/2/2026). |
Tanah Damai, Tanah Injil sering dikonotasikan dengan Tanah Papua ketika ada upaya untuk meredam konflik kekerasan di Tanah Papua.
Namun, siapakah yang sebenarnya menciptakan konflik dan kekerasan di Tanah Papua? Apakah penduduk orang asli Papua ataukah Pemerintah Indonesia.
Siapa yang diuntungkan ketika konflik pecah? Apakah penduduk orang asli Papua ataukah pemerintah, yang diwakili oleh kaum berprofesional dari berbagai Institusi negara di Tanah Papua.
Tanah Papua telah hidup dan diperkenalkan dalam terang Kristus Yesus pasca Johann Gotled Geissler dan Carl Willem Ottow menginjakan kakinya, di Pulau Mansinam pada tanggal 5 Februari 1855, dengan doa “dengan nama Tuhan, kami menginjak Tanah ini.
Terang dan Damai Kristus Yesus telah menjadi pijakan dan batu Peradaban penduduk orang asli Papua hingga kini. Sebelum Pemerintah Indonesia hadir di Tanah Papua. Penduduk orang asli Papua telah diperkenalkan dan dipersiapkan oleh para rasul Kristus Yesus untuk memimpin diri sendiri, menjadi tuan atas tanahnya di berbagai sektor;
Pendidikan, Kesehatan, Perekonomian hingga berbagai profesi modern sebagai jalan keberpihakan dan pemberdayaan bagi penduduk orang asli Papua yang telah berhasil diintegrasikan dalam Terang dan Damai Injil dalam kehidupan (POAP).
Namun nyatanya, pasca penyerahan Tanah Papua sebagai wilayah asuhan kepada pemerintah Indonesia, pada 1 Mei 1963 oleh UNTEA hingga kini, status tanah Papua menjadi tanah konflik dan kekerasan.
Tanah Papua yang dikenal dan diperbarui oleh terang Injil, kini telah bertumbuh dalam penggelapan dan peleburan konflik dan kekerasan hingga berbagai label negatif lainnya hingga tanah Papua dikonotasikan sebagai Tanah Konflik dan Kekerasan, yang memerlukan penangganan dan pengontrolan militeristik.
Yang menjadi pertanyaan, siapa yang sebenarnya menciptakan konflik dan kekerasan? Apakah penduduk orang asli Papua ataukah pemerintah Indonesia. Siapa yang diuntungkan dan dirugikan dari berbagai label negatif, perekayasan hingga konflik dan kekerasan di Tanah Papua.
Apakah penduduk orang asli Papua ataukah para oknum yang hadir dan merepresentasikan dirinya sebagai kehadiran negara di Tanah Papua.
Mengapa sejak negara hadir di Tanah Papua, Tanah Papua lebih dikenal dengan daerah konflik dan kekerasan? Bukan Tanah Damai yang diperkenalkan oleh Para Rasul Kristus Yesus melalui Terang Injil.
Dan yang perlu diketahui oleh kita semua, bahwa Tanah Papua lebih dahulu diperkenalkan dan hidup dalam Terang Injil 108 Tahun lebih dahulu , sebelum hidup dalam penggelapan dan konflik kekerasan yang berkepanjangan dalam asuhan pemerintah Indonesia, sejak (1 Mei 1963) hingga kini.
Sehingga momentum Perayaan hari pekabaran Injil di Tanah Papua yang ke 171 Tahun (5 Februari 1855 - 5 Februari 2026), harus menjadi momen refleksi bersama bagi seluruh penduduk orang asli Papua.
Dalam merepresentasikan dan menghidupkan kehadiran dirinya dalam keluarga, suku dan bangsa sebagai pembawa Terang Damai Kristus Yesus . Penduduk orang asli Papua, baik sebagai gembala ataupun para cendekiawan bahkan kaum berprofesional hingga rakyat jelata.
Harus mampu memperkenalkan dan menghidupkan Tanah Papua sebagai tanah damai dan mampu menunjukan siapa yang sebenarnya menciptakan konflik kekerasan di Tanah Papua.
Sebagaimana diperankan oleh Pdt, Dr. Benny Giay, Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman, Pdt. Dorman Wandikbo, Alm. Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay, Alm. Dr. Agus A. Alua, dan berbagai kaum cendekiawan dan kaum berprofesi penduduk orang asli Papua yang tidak disebutkan namanya.
Penduduk orang asli Papua harus mampu mengambil peran aktif dalam memperkenalkan dan mengupayakan dirinya untuk membebaskan, keluarga, suku dan bangsa.
Bukan menunggu dan mengharapkan keselamatan dan penyelamatan dari berbagai pihak. Sehingga berbagai representasi intelektual bahkan politisi dan berbagai kaum profesional yang hanya menjadikan POAP sebagai komoditas politik untuk mendapatkan jabatan ataupun posisi strategis perlu dipetakkan oleh seluruh penduduk orang asli Papua dengan jalan literasi.
Penduduk orang asli Papua perlu menghidupkan literasi dari rumah, gereja hingga berbagai ruang ataupun himpunan. Yang diinisiasikan oleh penduduk orang asli Papua sendiri. Guna membendung objektifikasi oleh para politisi ataupun intelektual dan profesional yang hanya memanfaatkan penduduk orang asli Papua sebagai komoditasnya. Demi mendapatkan posisi strategis dalam kehadiran negara di Tanah Papua.
Karena itu, momentum Perayaan hari Pekabaran Injil di Tanah Papua yang 171 (5 Februari 2026) bukan hanya menjadi tahun selebrasi dan perayaan tahunan tetapi harus menjadi tahun reflektif yang dihidupkan oleh penduduk orang asli Papua dalam terang keselamatan sebagai momentum Pembebasan dari berbagai belenggu kejahatan kegelapan dan penggelapan, oleh oknum yang berkepentingan ekonomis.
Sebagai upaya kolektif dalam membangun jati diri keluarga, suku dan bangsa yang beradab dan berdaulat dalam Terang dan Keselamatan Injil Yesus Kristus.
Selamat Memperingati 171 Tahun Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua.
Yaloaput, 5 Februari 2026
Ditulis oleh:
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis tentang isu-isu sosial politik dan aktif bersuara bagi komunitas masyarakat adat di Tanah Papua. Untuk membaca tulisan-tulisan penulis yang lain dapat mengunjungi akun blogspot penulis: https://sabacarita.blogspot.com/
