PERAYAAN NATAL DI TANAH PAPUA: Sebatas Selebrasi Tahunan Dibalik Krisis Kemanusiaan.



Ilustrasi Gambar: Jronaldo


Perayaan natal di tanah Papua di sebagian besar Kota dan Kabupaten dipenuhi hiasan pondok natal, lagu natal hingga warna-warni lampu natal yang menggambarkan kegembiraan, kedamaian dan kebersamaan.

 

Yang perlu dinilik adalah fenomena perlombaan pondok natal dengan puluhan juta rupiah baik di Sorong yang diinisiasi oleh Walikota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, yang diinisiasi oleh Anggota DPD RI Dapil Papua Pegunungan hingga berbagai Kabupaten Kota di Tanah Papua.

Yang memberikan indikasi adanya upaya pengalihan isu dan kejahatan kemanusiaan yang sedang melanda penduduk orang asli Papua di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Kabupaten Puncak, Nabire, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Tengah. Kabupaten Nduga, Yahukimo, Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan.

Dengan perlombaan hias pondok natal guna menampilkan wajah keceriaan, kegembiraan perayaan natal di Tanah Papua, padahal ada wajah kebobrokan, kejahatan dan kebiadaban TNI yang disembunyikan secara sadar maupun tidak sadar oleh penduduk orang asli Papua sendiri, melalui ajang perlombaan hias pondok natal.

Sebagai upaya-upaya terencana yang sistematis untuk pengalihan isu kejahatan kemanusiaan yang sedang melanda seluruh Tanah Papua, melalui komodifikasi berbagai event maupun perayaan hari raya keagamaan, di Tanah Papua, sebagaimana perayaan natal tahun 2025 di Tanah Papua.

Melalui pernak-pernik natal (pohon natal, bintang natal, lampu natal, pondok hingga tema-tema natal yang berbaur damai, kasih dan pengharapan).

Kini membentuk wajah semu yang kontras dari realitas yang dihadapi hampir seluruh masyarakat adat di Tanah Papua dan menciptakan suatu realitas baru akan kegembiraan, kedamaian dan kenyamanan.

Padahal masyarakat adat di Tanah Papua sedang babak-belur dengan todongan senjata, ledakan mortir hingga operasi militer menggunakan drone hingga helikopter, yang membuat mereka harus mengungsi di hutan tanpa jaminan keselamatan dan kecukupan makan dan minum.

Realitas inilah yang sedang disembunyikan dengan berbagai penampakan pondok natal hingga segala pernak-pernik natal yang menyembunyikan berbagai kejahatan kemanusiaan yang digencarkan oleh TNI-Polri di Tanah Papua.

Yang menumbuhkan watak dan mentalitas apatis, malas tahu dengan realitas dan fakta sosial didepan mata kita.

Dan membuat kita hanya mengharapkan pertolongan dari pihak luar tanpa ada upaya dari kita untuk menunjukan kepada dunia Internasional tentang luka dan duka yang sedang dialami oleh sesama kita.

Yang kini sedang menyelamatkan diri dan keluarga di hutan, semak belukar tanpa kepastian makan-minum dan jaminan keselamatan dari operasi militer menggunakan drone, helikopter, mortir dan berbagai kelengkapan perang.

Sebagaimana yang dilaporkan dari hasil kunjungan lapangan, tim investigasi Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, menemukan;

Operasi militer yang dilakukan pada pada tanggal 11 Desember 2025 menggunakan mortir, 3 buah drone dan 3 helikopter serta pendropan pasukan oleh TNI guna melakukan serangan membabi buta di area pemukiman masyarakat, Kampung Weneworasosa, Distrik Gearek Kabupaten Nduga Provinsi Papua Pegunungan.

Yang mengorbankan Arestina Giban anak berumur 7 tahun, yang tertembak di bagian kepala dan tertanam serpihan mortir di bagian paha kiri hingga menelantarkan 580 Jiwa Pengungsi pasca operasi militer, di Kabupaten Nduga, pada 11 Desember 2025.

 

Yang memberikan indikasi bahwa: perang aparat militer di Tanah Papua adalah bagian dari operasi militer yang kejam, barbar dan biadab yang sedang menyerang warga sipil dan masyarakat adat di pemukiman Kampung/Desa di pelosok-kampung di Tanah Papua.

Apakah kebiadan dan kejahatan kemanusia yang berjalan telanjang didepan mata kita ini, akan kita biarkan begitu saja?

Apakah segala kebengisan dan kekejaman ini akan kita rayakan dengan selebrasi berbagai pondok, lampu, lagu natal? Demi meraup puluhan juta rupiah.

Dan mengabaikan segala tangisan dan ratapan para pengungsi di hutan rimba, semak belukar tanpa makan-minum dan jaminan keselamatan.

Ataukah kita akan membangun solidaritas, dukungan melalui penyebarang foto/Video penyerangan membabi buta di berbagai akun media sosial kita, sebagai bagian dari upaya mobilisasi dukungan khalayak internasional.

Memberikan dukungan dan bantuan kasih berupa pakaian, makanan bagi pengungsi seraya merayakan natal dengan membangun wacana baru yang berbeda dari wacana pemerintah Indonesia tentang rekonsiliasi, rehabilitasi, solidaritas dan pembebasan sebagai pesan pokok dari Perayaan Natal.

Sebab kejahatan dan pelaku kejahatan yang sesungguhnya, adalah kita yang abai, apatis dan malas tahu dengan segala kejahatan kemanusia yang sedang terjadi di depan mata kita dan membiarkan kejahatan itu dilakukan secara terus menerus, masif dan kejam.

Tanpa ada inisiatif, dorongan, kemauan dan kesadaran yang mengunggah mata hati kita untuk menyuarakan, menyerukan penghentian kekejaman dan kebiadaban militeristik ini.

Sebab luka mereka adalah derita kita, derita mereka adalah duka kita, sebagai sesama ciptaan Tuhan yang patut hidup, bertumbuh dan berkembang dalam Kasih, Persaudaraan dan Pengharapan akan kedamaian dan ketentraman.


Yaloaput, 24 Desember 2025



J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis tentang isu-isu Sosial-Politik hingga hak-hak masyarakat adat di Tanah Papua, untuk melihat tulisan-tulisan yang lain dapat mengunjungi blogger penulis; http://sabacarita.blogspot.com/


Series Humanitarian Edisi Ke-IV


*Referensi:*
  • Lengka Jefta, 2025. Penyerangan dan Pembunuhan Terhadap Arestina Giban (7 Tahun) dan Upaya Penghilangan Paksa Terhadap Jasadnya di Gearek Kabupaten Nduga Tanpa Perlawanan, Ratusan Warga Sipil Mengungsi. Laporan Investigatif Oleh Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua. Diakses pada; Rabu, 24 Desember 2025.