![]() |
| Ilustrasi Gambar: Jronaldo |
Hiasan pondok natal yang indah yang bertebaran di seluruh pelosok, sudut dan kota, Ibu Kota Provinsi Papua Pegunungan.
Seakan menunjukan wajah ketidak pedulian, kepekaan sosial akan nilai-nilai kasih, kedamaian, persaudaraan dan solidaritas terhadap krisis kemanusiaan yang melanda seluruh Kabupaten/kota Di Tanah Papua.
Sebagaimana operasi militer, yang diungkapkan oleh DPRD Kabupaten Nduga Komisi C.`
Yang terjadi pada tanggal 10 Desember 2025, di Distrik Gearek dan Pasir Putih, Kabupaten Nduga menggunakan 6 helicopter dan dilanjutkan operasi militer pada keesokan harinya melalui 3 helikopter, di Distrik Gearek.`
Hingga operasi militer pada 5 Oktober 2025, di Distrik Malagaineri Kabupaten Lanny Jaya, yang menyebabkan 2.300 jiwa mengungsi ke Kampung Yigemili.
Dan 15 orang yang dibunuh oleh TNI-Polri pada tanggal 15 Oktober 2025 di Kampung Soanggama, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
Eskalasi konflik kekerasan di Tanah Papua, terus meningkat drastis dari tahun ke tahun. tanpa ada kepastian dan niat baik pemerintah untuk menyelesaikan konflik bersenjata ini.
Bahkan bulan Desember sering dijadikan sebagai ajang pembantaian, kebengisan dan kekejaman TNI-Polri, di pelosok dan sudut Kabupaten/Kota di Tanah Papua.
Dan tidak ada inisiasi Pemerintah dan Gereja untuk menyerukan seruan penghentian konflik bersenjata ini.
Kepada TNI-Polri untuk meninggalkan tempat-tempat konflik dan TPN-PB untuk menahan diri, sebagai upaya sterilisasi, agar masyarakat di daerah konflik dapat merayakan natal dengan damai.
Yang memberikan indikasi bahwa; pemerintah dan gereja seakan bersekongkol untuk membiarkan konflik kekerasan bersenjata dan korban kekerasan terus berjatuhan di Tanah Papua.
Tanpa ada rasa tanggung jawab dan beban moral, seruan untuk penghentian operasi militer dan konflik bersenjata antara TPN-PB dan TNI-Polri di bulan Desember pun, berat untuk suarakan.
Seraya kita, sesama manusia tetap bersikap abai, malas tahu dengan saudara/i kita yang ditelantarkan karena, terhanyut arus perlombaan menghiasi pondok natal dengan juta rupiah hadiah.
Yang telah berhasil menyentuh basis ideologis kita dan mengelabui kita melihat, berpikir dan bertindak ideal, realistik dengan kondisi sosial disekitar kita.
Sehingga penulis menilai bahwa; euforia perlombaan hias pondok natal dapat dijadikan sebagai alat kodifikasi demi menumbuhkan sikap apatis, malas tahu terhadap situasi dan kondisi real di Tanah Papua.
Hingga dentingan suara tembakan dan ledakan bom yang terjadi di depan mata kita seakan tidak sekeras suara lonceng natal yang kita dengar.
Ratapan dan tangisan para pengungsi, yang menjerit seakan tidak semerdu nyanyian lagu natal yang harus dengar, disoliderir dan disuarakan.
Hingga wajah kebiadaban, kekerasan dan kekejaman aparat gabungan TNI-Polri bagi para pengungsi yang sedang bertebaran di berbagai beranda media sosial bahkan penampakan pos-pos pengungsi di sekitaran kita pun tak tersentuh oleh kita, karena kita telah berhasil dikelabui oleh rekacipta kondisi keindahan pondok natal dan lagu natal yang berbunyi dari pagi sampai malam.
Apakah ini yang kita sebut sebagai esensi perayaan natal? yang layak dirayakan dengan berbagai macam pernak pernik natal.
Yang membuat kita bersikap apatis, malas tahu terhadap wajah kesukaran, suara tangisan dan ratapan meminta pertolongan, korban kekerasan operasi militer yang ada disekitaran kita.
Apakah wajah kesukaran, penderitaan dan suara ratapan tangisan para pengungsi mengganggu perayaan natal, sehingga wajah kesukaran dan penderitaan mereka harus ditutupi oleh estetika lomba hias pondok natal, agar potret-potret penderitaan tidak mengganggu keceriaan dan kegembiraan perayaan natal.
Jika iya, mengapa kita masih memaknai natal dengan kasih, perdamaian dan solidaritas Yesus Kristus bagi umat manusia demi penyelamat.
Dan mengabaikan wajah kesukaran, kesediaan, kemelaratan saudara/i kita yang tidak berdaya karena tekanan, kekerasan dan kejahatan militer.
Apakah kelahiran Yesus Kristus sebatas ajang perlombaan hiasan pondok natal?
Apakah natal sebatas slogan yang bertema; kasih, pengharapan dan kedamaian yang hanya dimaknai dengan berbagai pernak-pernik keindahan.
Natal adalah aksi dan wujud nyata, kehadiran, keterlibatan dan solidaritas Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi manusia demi menyatakan karya besar Allah untuk, pembaruan hidup umat manusia dari berbagai ketimpangan struktural hingga kemelaratan sosial-budaya.
Dengan benih-benih kasih, perdamaian, persatuan dan solidaritas yang telah menjadi tali perekat.
Natal tidak hadir untuk menumbuhkan tembok pemisah, tetapi menghidupkan tali persatuan.
Natal tidak hadir untuk menumbuhkan sikap apatis, malas tahu dan ketamakan. Tetapi menumbuhkan sikap empati, persaudaraan dan perdamaian.
Karena natal adalah wujud nyata kehadiran dan keterlibatan Yesus Kristus sebagai kasih dan terang yang membawah jalan keselamatan, kedamaian, kesatuan dan ketentraman yang menembus sekat-sekat perbedaan.
Natal bukan sebatas slogan kosong yang menumbuhkan sikap apatis, malas tahu bagi sesama manusia demi meraup puluhan juta rupiah dari hiasan pondok natal.
Hingga menjadi alat penutupi mata dari praktik-praktik brutalitas, kekejaman dan kebiadaban aparat TNI-Polri yang bergabung dalam berbagai macam satuan operasi, di Tanah Papua.
Natal bukan hanya sebatas ajang pameran keindahan pohon natal.
Tetapi puncak refleksi yang mencerminkan nilai, kesederhanaan, kedamaian, kebersamaan, kesamaan hak, kepedulian dan aksi nyata bagi sesama manusia.
Sehingga mereka yang mengungsi, meninggalkan rumah, ternak, ladang dan dibuat terlantar dari sanak saudara karena operasi militer, dengan label simpatisan kelompok kriminal bersenjata atau mengejar TPN-PB.
Apapun alasan, label dan stigma yang merendahkan kemanusiaan, yang membenarkan praktik-praktik ketidakadilan oleh aparat gabungan TNI-Polri tidak layak di solider dan dibiarkan oleh kita.
Karena kita terhanyut dalam ajang selebrasi lomba hias pondok yang menutupi wajah, kondisi dan realitas sosial di sekitar kita.
Yang penuh dengan kebobrokan, kekejaman dan kebiadaban aparatur negara melalui operasi TNI-Polri secara kasat mata menggunakan peralatan perang.
Dan benar, kita telah bertumbuh dalam realitas fantasi dan euforia lomba hias pondok natal, yang telah membentuk tataran ideologis dan berhasil membangun suatu realitas baru yang semu bagi kita, sehingga segala kebobrokan, kekejaman dan kebiadaban TNI-Polri berjalan telanjang namun, tak tersentuh oleh kita.
Padahal perayaan natal BUKAN sebatas selebrasi tahunan, yang harus dirayakan dengan mengabaikan kaum pengungsi yang lemah, yang dibuat tidak berdaya dan ditelantarkan dari rumah dan kampung halamannya.
Dibuat tercerai-berai dengan anggota keluarga, komunitas dan masyarakatnya.
Jika benar, perayaan natal dengan lomba hias pondok telah menumbuhkan mentalitas apatis, malas tahu, abai terhadap realitas dan fakta sosial yang terjadi di depan mata kita.
Maka perayaan natal kali ini telah menjadi alat kodifikasi pelaku kejahatan demi menumbuhkan kesadaran palsu dan realitas semu akan kedamaian, keamanan dan ketentraman di Tanah Papua.
Dan menjadi alat politis bagi politisi dan diplomat Indonesia di kancah Internasional untuk mengumumkan bahwa Papua aman dalam Indonesia. Karena semua umat Tuhan di Papua merayakan Natal dengan aman, damai dan meriah.
Padahal umat Tuhan di Tanah Papua yang mendiami Kabupaten Nduga, Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Kabupaten Intan Jaya, Nabire, Provinsi Papua Tengah, Maybrat Provinsi Papua Barat Daya, masih hidup dalam pengungsian, trauma, duka dan luka operasi militeristik.
Apakah kita akan terus berdiam, apatis dan malas tahu seraya merayakan natal dengan sukacita?
Dan membiarkan saudara/i kita, sesama umat Tuhan, suku bangsa, ras ditimpa kejahatan dan kebiadaban struktural.
Ataukah kita akan memaknai dan menghadirkan natal bagi para pengungsi yang menjerit akibat operasi militer?
Sebab Yesus Kristus telah hadir bagi pemulihan dan keutuhan manusia secara komprehensif. Tanpa memandang sekat-sekat pemisah seperti; ras, suku-bangsa, warna kulit, kepercayaan, pandangan politik, maupun benteng geografis.
Keputusan dan pilihan ada di tangan kita masing-masing, bukan di para politisi, birokrat yang membangun realitas semu, serta aparat militer yang melakukan berbagai kejahatan kemanusian di Tanah Papua.
Dan menjadikan natal sebatas ajang selebrasi, kodifikasi dan perlombaan tanpa makna yang tidak menyentuh esensi perayaan natal.
Walani, 16 Desember 2025.
Ditulis oleh:
J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis tentang isu-isu Sosial-Politik hingga hak-hak masyarakat adat di Tanah Papua, untuk melihat tulisan-tulisan yang lain dapat mengunjungi blogger penulis; http://sabacarita.blogspot.com/
Series Humanitarian Edisi Ke-III
