PACIFIC: Jejak Sejarah Perang Dunia II Yang Dilupakan.


Ilustrasi Gambar: Jronaldo


Pacific jejak Perang Dunia II yang dilupakan karena jejak peninggalan perang dunia II tidak dinilai sebagai monumen sejarah yang perlu dipelajari.

Tentang peristiwa masa lampau tetapi, juga jejak kedahsyatan kehancuran, kebiadaban yang menghancurkan kemanusiaan dalam sekali dentuman.

Sehingga tulisan ini, hadir untuk menilik pentingnya perawatan artefak sejarah Perang Dunia II sebagai bahan utama edukasi tentang peristiwa bersejarah.

Yang dapat digunakan untuk penataan moral bangsa bagi generasi kini bahkan yang akan datang, agar tidak terulang lagi peristiwa yang memilukan dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan cara-cara kekerasan (perang) yang didukung oleh senjata modern, yang dapat melenyapkan manusia maupun peradaban dunia karena arogansi kepemimpinan maupun segelintir orang demi mempertahankan kekuasaan bahkan ambisi untuk mengekspansi suatu teritori.

Selain itu, tulisan ini hadir karena melihat berbagai artefak peninggalan perang dunia II di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang tidak dirawat, bukan hanya terbengkalai tetapi juga dikikis, habis oleh rentenir besi tua.

Padahal bukti arkeologis peninggalan perang dunia II merupakan bahan utama yang harus dijaga, dirawat demi menunjukan kebobrokan dan kedahsyatan perang yang tidak harus terulang lagi.

Namun, kini bukti-bukti arkeologis peninggalan perang dunia II tidak lagi berbicara melalui keberadaan artefaknya, karena lenyap dari berbagai tempat keberadaannya.

Padahal artefak peninggalan perang II merupakan bahan utama yang patut dirawat sebagai bukti fisik tentang peristiwa perang dunia II, yang tidak hanya terjadi di Hiroshima dan Nagasaki.
Tetapi juga, hampir seluruh Tanah Papua, yang juga dikenal sebagai Perang Pasifik. Dimana, Byak, Kota Jayapura, Kab Jayapura, Sarmi hingga berbagai tempat di Tanah Papua menjadi saksi bisu akan kebengisan dan kedahsyatan perang dunia II.
Yang perlu dijadikan pembelajaran demi penataan moralitas bangsa. Sebab perang dunia II bukan sebatas peristiwa masa lampau namun, juga tentang moralitas dan sikap akan pengakuan dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Yang patut dipelajari guna menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian.

Karena perang telah merenggut kemanusiaan bahkan dapat menghancurkan berbagai peradaban bangsa yang patut diwariskan, jika jalan kekerasan masih dijadikan suatu keharusan yang harus dipertahankan.

Padahal, jejak kebiadaban perang dunia II telah mengajarkan kita, bahwa; perang merupakan jalan kemelaratan, kebiadaban, kejahatan dan kebengisan yang tidak pantas diwariskan. Sebab ada upaya-upaya yang lebih bermartabat dan beradab yang perlu dikedepankan untuk mewujudkan dunia yang damai, aman dan tentram bagi seluruh makhluk hidup.

Karena itu, diperlukan upaya-upaya khusus yang inklusif untuk menjaga, merawat berbagai artefak perang dunia II sebagai wadah edukatif sejarah maupun jasa wisata sejarah yang memiliki pesan-pesan penting untuk penataan moralitas umat manusia, agar praktik-praktik kebengisan, kebiadaban dan kejahatan yang memilukan. Tidak lagi menjadi warisan peradaban dunia.
Sebagaimana, meseum National World War Two yang bertempat di New Orleans Amerika Serikat, sebagai monumen kapal perang yang dikelola sebagai museum terapung, untuk mengenang dan belajar dari peristiwa Pearl Harbor, yang terjadi di Hawaii. Situs Tembok Berlin dan Topography of Terror (Berlin) yang memberikan edukasi mendalam tentang kejahatan Nazi di Jerman hingga Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima dan Nagasaki yang secara eksplisit mengajarkan tentang dampak bom atom dan pentingnya perdamaian, di Jepang.
Yang dapat dijadikan sebagai perbandingan untuk menjaga, merawat dan mengelola artefak sejarah perang dunia II sebagai benda berharga yang dapat digunakan sarana edukatif tentang peristiwa masa lampau, guna penataaan moral bangsa seraya memberikan jasa wisata sejarah.

Untuk itu, diperlukan upaya, inisiatif dan kerja kolaboratif lintas sektor guna membenahi artefak sejarah yang tidak terawat bahkan dikikis habis oleh rentenir besi tua; demi penataan moralitas umat manusia, untuk mewujudkan dunia yang aman dan damai.



Walani , 24 November 2025



Ditulis oleh:


J.W.Ronaldo
Penulis merupakan lulusan Antropologi FISIP UNCEN, yang aktif menulis tentang isu-isu sosial-politik di Tanah Papua. Untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang lainnya dapat berkunjung melalui: https://sabacarita.blogspot.com/